Pendakian Gunung Prau Via Patakbanteng Wonosobo

Pendakian Gunung Prau Via Patakbanteng Wonosobo
Kali ini saya akan membahas pendakian ke Gunung Prau Via Patakbanteng Wonosobo, Gunung Prau memang tidak terlalu terkenal seperti Gunung lainya. Gunug yang kondang dengan bukit Teletubiesnya ini terletak di kawasan wisata Dieng, maka saya sarankan jika anda berkunjung ke Dieng untuk berkunjung ke Gunung Prau. Jalur ini merupakan jalur paling pendek untuk mencapai puncak Gunung Prau.

Jika anda berangkat dari Jakarta, pilihlan Bus Jurusan Wonosobo, kemudian turun di pertigaan menuju Dieng sebelum terminal Mendolo, kemudian naiklah minibus jurusan Dieng dengan tarif sekitar Rp. 15.000,- per orang. Basecamp Patakbanteng beralamat di Jalan Raya Dieng KM 24, jadi sekitar 24 KM dari Kota Wonosobo, atau bisa di tempuh sekitar 1 jam perjalanan.  Basecamp terletak di Balai Desa Patakbanteng, di sini anda dapat menitipkan kendaraan ( jika anda menggunakan sepeda motor ) dengan tarif Rp. 1.000,- per motor dan untuk retribusi hanya Rp. 4.000,- untuk satu orang. 

Jalur yang pertama kita lewati adalah jalur bebatuan yang ditata rapi dan masih cukup datar. setelah melewati jalan tersebut, maka anda akan menemukan jalan setapak, masih cukup datar dan belum terlalu terjal. Setelah anda melewati POS I dan menuju ke POS II, jalan akan mulai menanjak dan jika jalan sedang atau habis terguyur hujan, maka akan cukup licin, maka anda harus berhati-hati melewatinya. 

POS III sampai ke puncak, anda akan mendapat tangtangan lebih karena jalur akan semakin curan dan sedikit bonus. Perjalan normal menghabiskan waktu 2,5 sampai 3 jam, tergantung kecepatan berjalan kita dan banyaknya waktu yang kita habiskan untuk istirahat. Di Puncak Gunung Prau, jika cuaca bersahabat maka anda akan mendapatkan pemandangan dari beberapa Gunung lain, mulai dari Lawu, Merbabu, Merapi, Sindoro dan Sumbing yang begitu gagah dan indahnya.     

Salam Lestari. 

Pendakian Gunung Semeru

Gunung Semeru adalah gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3.676 mdpl, puncaknya biasa di sebut Mahameru. Salah satu gunung yang sangat diminati pendaki, salah satunya karena sebuah film yang tayang beberapa waktu lalu. Anda akan betah digunung ini karena pemandangannya yang indah. Terutama disekitar Ranu Kumbolo. Desa terakhir yang kita lewati untuk menuju puncak Mahameru adalah desa Ranu Pane. 

Untuk menuju Ranupane bisa dari kota Malang atau Lumajang. Dari terminal Kota Malang anda bisa naik angkutan umum menuju desa Tumpang. Dilanjutkan dengan Jip atau Truk Sayuran yang banyak terdapat di belakang pasar terminal Tumpang. Di Ranu Pane terdapat Pos pemeriksaan, warung dan pondok penginapan. Anda juga bisa bermalam di Pos Penjagaan. 

Di Pos Ranu Pani juga terdapat dua buah danau yakni danau (ranu) Pani dengan luas sekirat 1 ha dan ranu Regulo dengan luas 0,75 ha. Terletak pada ketinggian 2.200 mdpl. Ada dua jalur yang dapat anda tempuh dari Desa Ranu Pane menuju Mahameru. Tetapi kedua jalur tersebut akan bertemu di Ranu Kumbolo.  Jalur Pendakian Gunung Semeru via Watu Rejeng dan via Gunung Ayek-Ayek.  

Biasanya bagi pendaki yang baru pertama kali ke gunung Semeru akan sulit menemukan jalur pendakian, kadang malah hanya berputar disekitar desa Ranu Pane. Sebaiknya setelah menemukan gapura selamat datang, perhatikan terus ke kiri ke arah bukit, jangan mengikuti jalanan yang lebar ke arah kebun penduduk. 

Jalur awal yang kita lalui cukup landai, menyusuri lereng bukit yang didominasi tumbuhan alang-alang.Tidak ada tanda penunjuk arah jalan, tetapi terdapat tanda ukuran jarak pada setiap 100m, kita ikuti saja tanda ini. Kadang terdapat pohon tumbang, dan ranting-ranting diatas kepala, sehingga kita harus sering merundukkan kepala, tas keril yang tinggi sangat tidak nyaman.  

Setelah berjalan sekitar 5 Km menyusuri lereng bukit yang banyak ditumbuhi Edelweis, kita akan sampai di Watu Rejeng. Kita akan melihat batu terjal yang sangat indah. Kita saksikan pemandangan yang sangat indah ke arah lembah dan bukit-bukit yang ditumbuhi hutan cemara dan pinus. Kadang kala kita dapat menyaksikan kepulan asap dari puncak semeru. Dari sini kita bisa menuju pos pendakian di Ranu Kumbolo yang masih harus kita tempuh dengan jarak sekitar 4,5 Km. 

Selain jalur yang biasa dilewati para pendaki melewati Watu Rejeng, juga ada jalur pintas yang biasa dipakai para pendaki lokal, jalur ini sangat curam dengan melintasi Gunung Ayek-ayek. Jika anda mau melintasi jalur ini maka setibanya anda di Ranu Kumbolo sebaiknya anda mendirikan tenda karena disini terdapat danau yang memiliki air bersih, dan juga pemandangan disini sangat indah. Biasanya pendaki akan betah berada disini, ditambah pemandangan matahari terbit disela-sela bukit.

Ranu Kumbolo berada pada ketinggian 2.400 mdpl dengan luas 14 ha. Dari Ranu Kumbolo sebaiknya menyiapkan air sebanyak mungkin. Meninggalkan Ranu Kumbolo kita mendaki bukit terjal, dengan pemandangan yang indah. Di depan bukit kita terbentang padang rumput yang luas yang dinamakan oro-oro ombo yang dikelilingi bukit dan gunung dengan pemandangan yang sangat indah, padang rumput luas dengan lereng yang ditumbuhi pohon pinus.

Dari balik Gn. Kepolo tampak puncak Gn. Semeru menyemburkan asap wedus gembel. Selanjutnya kita memasuki hutan Cemara dimana kadang-kadang kita jumpai burung dan kijang. Disini terdapat banyak pohon tumbang sehingga kita harus melangkahi atau menaikinya. Daerah ini biasa disebut Cemoro Kandang. Dari Cemoro Kandang kita akan menuju Pos Kalimati yang berada pada ketinggian 2.700 mdpl, disini kita dapat mendirikan tenda untuk beristirahat dan mempersiapkan fisik. Kemudian meneruskan pendakian pada pagi-pagi sekali pukul 24.00. 

Pos ini berupa padang rumput luas di tepi hutan cemara, sehingga banyak tersedia ranting untuk membuat api unggun. Terdapat mata air Sumber Mani, ke arah barat (kanan) menelusuri pinggiran hutan Kalimati dengan menempuh jarak 1 jam pulang pergi. Di Kalimati banyak terdapat tikus gunung bila kita mendirikan tenda dan ingin tidur sebaiknya menyimpan makanan dalam satu tempat yang aman. 

Untuk menuju Arcopodo kita berbelok ke kiri (Timur) berjalan sekitar 500 meter, kemudian berbelok ke kanan (Selatan) sedikit menuruni padang rumput Kalimati. Arcopodo berjarak 1 jam dari Kalimati melewati hutan cemara yang sangat curam, dengan tanah yang mudah longsor dan berdebu. Dapat juga kita berkemah di Arcopodo, tetapi kondisi tanahnya kurang stabil dan sering longsor. Sebaiknya anda menggunakan kacamata dan penutup hidung karena banyak abu beterbangan. 

Arcopodo berada pada ketinggian 2.900 mdpl. Arcopodo adalah wilayah vegetasi terakhir di Gunung Semeru, selebihnya kita akan melewati bukit pasir. Dari Arcopodo menuju puncak Semeru diperlukan waktu 3-4 jam dengan langkah santai, melewati bukit pasir yang sangat curam dan mudah merosot. Semua barang bawaan sebaiknya kita tinggal di Arcopodo atau di Kalimati. Pendakian menuju puncak dilakukan pagi-pagi sekali sekitar pukul 02.00 pagi dari Arcopodo. Badan dalam kondisi segar, dan efektif dalam menggunakan air. 

Perjalanan pada siang hari medan yang dilalui terasa makin berat selain terasa panas juga pasir akan gembur bila terkena panas. Siang hari angin cendurung ke arah utara menuju puncak membawa gas beracun dari Kawah Jonggring Saloka. Di puncak Gunung Mahameru (Semeru) pendaki disarankan untuk tidak menuju kawah Jonggring Saloko, juga dilarang mendaki dari sisi sebelah selatan, karena adanya gas beracun dan aliran lahar. 

Suhu dipuncak Mahameru berkisar 4 - 10 derajad Celcius, pada puncak musim kemarau minus 0 derajat Celcius, dan dijumpai kristal-kristal es. Cuaca sering berkabut terutama pada siang, sore dan malam hari. Jalur Pendakian Ayek-Ayek Puncak Mahameru bisa juga ditempuh melalui jalur pintas yaitu Jalur Gunung Ayek Ayek. Namun tidak disarankan karena Jalur ini biasanya dipakai oleh pendaki lokal, kondisi jalur sangat curam dan cukup berbahaya. 

Pendakian sebaiknya dilakukan pada musim kemarau yaitu bulan Juni, Juli, Agustus, dan September. Sebaiknya tidak mendaki pada musim hujan karena sering terjadi badai dan tanah longsor. kemudian saya sarankan untuk menjaga kebersihan Gunung Semeru, khususnya kawasan Ranu Kumbolo. Bawalah kembali sampah anda dan jaga semeru untuk anak cucu kita. 

Salam Lestari.
Save Semeru
Thaks to bang Muhammad Chamdun

Pendakian Gunung Lawu Via Cemoro Sewu

Pendakian Gunung Lawu Via Cemoro Sewu
Gunung Lawu, Gunung yang terkenal dengan warung Mbok Yem-nya ini merupakan Gunung yang terletak di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dengan Provinsi Jawa Timur. Gunung dengan ketinggian 3.265 mdpl ini memili dua Jalur Pendakian yang populer yaitu Jalur Cemoro Sewu yang terletak di Kabupaten Magetan Jawa Timur dan Jalur Cemoro Kandang yang terletak di Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah. 

Di luar dua Jalur tersebut masih ada jalur pendakian yaitu Cetho yang melewati Candi Centho yang merupakan candi peninggalan Brawija V, Jalur Tambak yang masuk Jawa Tengah atau Jalur Jogorogo yang masuk Kabupaten Ngawi Jawa Timur. 

Jalur Cemoro Sewu berjarak tidak terlalu jauh dari jalur sebelahnya yaitu Cemoro Kandang. Jalur ini didominasi oleh jalan bebatuan yang di susun menyerupai anak tangga. Jalur ini sering digunakan oleh para peziarah pada malam satu suro untuk napak tilas perjalanan Prabu Brawijaya V. 

Di Basecamp Cemoro Sewu kita dapat menitikan kendaraan kita, misalnya anda menggunakan sepeda motor dengan tarif Rp. 5.000,- permalam.  Kemudian lakukan pendaftaran dan pembayaran retribusi sebesar Rp. 7.500,- (waktu itu ). 

Jalur yang ada di Cemoro Sewu adalah jalan bebatuan yang sudah kita pijak saat melewati pintu gerbang. Kemudian jalur akan mulai terbuka dan rerumputan di kiri-kanannya. Dalam perjalanan menuju POS I anda akan menemui mata air yang biasa di sebut Sendang Wesanan. Jalan yang di lewati selanjutnya akan semakin menyempit dari jalan sebelumnya. Di POS I juga biasanya ada warung yang bisa anda singgahi untuk melepas lelah. 

Jalur menuju POS II akan lebih menanjak di bandingkan jalan sebelumnya. Jalan yang dilalui masih terdiri dari batu yang di tata rapi , mirip seperti anak tangga. Sekitar 1 jam dari POS II anda bisa sampai di POS III, biasanya banyak pendaki yang berkemah di POS III ini. 

POS IV dapat anda capai seletah satu setengah jam dari POS III dengan melewati jalan yang terdapat bebatuan besar di sisi jalanya, di POS IV ini juga dapat anda gunakan untuk berkemah karena tempatnya cukup luas. Di tempat ini anda dapat melihat indahnya malam di kota Magetan dan Telaga Sarangan di malam hari. 

Jika anda tetap melanjutkan perjalanan, 1,5 jam dari POS IV anda akan sampai di POS V. POS V merupakan POS terakhir sebelum kita mencapai warung legendaris, warung Mbok Yem. POS ini juga cukup luas untuk dapat anda gunakan untuk mendirikan tenda dan bermalam. Di sini juga masih terbentang pemandangan indah Kota Magetan di malam hari. 

Warung Mbok Yem dapat di temui dengan melewati jalan yang berbatu. Di POS ini juga ada lembah dengan sabana. Ambilah jalan setapak yang ada di bawah sebuah papan yang bertuliskan POS 5. Setelah 1,5 sampai 2 jam anda akan sampai di Warung Mbok Yem di Hargo dalem, kemudian Puncak Lawu yaitu Hargo Dumilah dapat di tempuh sekitar 10-15 menit dari Warung Mbok Yem. 

Salam Lestari.   
  

Pendakian Gunung Slamet Via Bambangan Purbalingga

Pendakian Gunung Slamet Via Bambangan Purbalingga
Gunung Slamet merupakan Gunung tertinggi di Jawa Tengah, dengan ketinggian 3.432 mdpl, Gunung ini merupakan Gunung tertinggi kedua di pulau Jawa seterlah Gunung Semeru. Gunung ini berbentuk strato/kerucut dan memiliki kawah yang masih sangat aktif. Gunung ini kembali bergejolak beberapa bulan yang lalu sehingga jalur pendakian ke puncak Gunung Slamet sementara ini masih ditutup, namun kemungkinan dengan menurunya aktivitas Gunung Slamet, kabar yang saya dengar adalah jalur pendakian akan dibuka kembali pasca lebaran.

Untuk mencapai puncak Gunung Slamet, tersedia 3 Jalur pendakian yang bisa kita lewati. Jalur pertama yaitu dari arah utara via Gambuhan Jurangmangu, kemudian dari arah selatan via Baturraden Gunung Malang, dan via timur yaitu jalur Bobotsari Bambangan. Jalur yang direkomendasikan adalah Jalur Gambuhan dan Bambangan. Jalur Baturraden tidak dianjurkan karena medanya berbahaya dan banyak rumput liarnya.

Untuk menuju Jalur Bambangan, kita dapat menggunakan bis jurusan Bobotsari Purbalingga turun di terminal Bobotsari jika kita dari arah Kota Purwokerto. Kemudian kita melanjutkan perjalanan menuju pasar Priatin Desa Kutabawa Kecamatan Karangrejo atau di Penjangan, kemudian berjalan 3 KM menuju Bambangan.

Jika kita dari arah Kabupaten Pemalang, maka kita bisa naik Bis jurusan Purwokerto, kemudian turun di Karangrejo, pertigaan ke Goa Lawa, kemudian melanjutkan dengan naik minibus menuju Priatin.

Dusun Bambangan merupakan dusun terakhir menuju puncak Slamet, di sini kita bisa melengkapi perbekalan untuk pendakian kita nantinya. Kita dapat beristirahat atau bermalam di Pondok Pemuda di Dusun Bambangan ini dan jangan lupa untuk melapor ke petugas setempat. 

Perjalanan dimulai dari Pondok ini kemudian pilihlah Jalur yang lurus jika kita menginginkan jalur yang lebih pendek. Kita akan melewati perladangan penduduk sampai kita menemui sebuah tempat peristirahatan. Kemudian kita akan menemukan tempat peristirahatan yang di sebut Pondok Gembirung, tempat ini memiliki ketinggian sekitar 2.250 mdpl yang merupakan hutan yang banyak ditumbuhi pohon gembirung.

Setelah melewati Pondok Gembirung kita akan menjumpai sebuah pondok lagi yaitu Pondok Walang, setelah berjalan beberapa ratus meter kita akan menemui pondok lagi yaitu Pondok Cemara yang banyak ditumbuhi pohon cemara. Setelah berjalan sekitar 2 km dari Pondok Cemara kita akan menemui lagi Pondok Samanrantu, pondok dengan ketinggian sekitar 2.900 mdpl ini bisa kita gunakan untuk beristirahat sejenak. Waktu yang di tempuh dari Basecamp Bambangan sampai di sini sekitar 5 jam.

Dari Samanrantu pendakian dilanjutkan menuju Samyang Rangkah, biasanya di musim hujan ada mata air. Perjalanan berlanjut menuju Samyang Kendit dan Samyang Jampang yang di tumbuhi edelweiss dan kita bisa melihat sunrice di tempat ini, kemudian akan melewati Samyang Ketebonan, tempat ini sudah memiliki ketinggian sekitar 3.000 mdpl.

Perjalanan berlanjut menuju ke Plawangan,di sini kita akan keluar dari hutan dan mulai berjalan di tanah berbatu. Setelah melanjutkan perjalanan sekitar 1 jam lebih , kita akan sampai di Puncak Gunung Slamet. Di sini kita akan disuguhi pemandangan Segoro Warian dan Segoro Wedi. Di puncak kita dapat menyaksikan Puncak Gunung-gunung lainya, bahkan Samudra Hindia juga bisa kita lihat jika cuaca cerah.

Total waktu pendakian dari Basecamp Bambangan sekitar 8-10 jam, tergantung irama kita dalam berjalan dan manajemen waktu kita. Untuk turun sekitar 4-5 jam.

Salam Lestari.

Untuk apa aku naik gunung ?

Mungkin itu pertanyaan yang sering terfikir dari dalam benak kita, manusia-manusia yang cinta menjelajahi keindahan negeri ini. Keindahan yang tidak akan pernah kita dapatkan di negara lain dimanapun di dunia ini. Kemudian apakah tujuan kita mendaki ? melepas penat dari rutinitas dan pekerjaan sehari-hari yang tak pernah habis-habisnya ?, atau menikmati keindanya saja?,  Tapi apakah tujuan kita hanya itu saja ?, saya rasa tidak, banyak teman saya yang mengatakan tujuan mereka mendaki gunung adalah mencari jati diri dan mengenali sifat alamiah kita sebagai manusia.

Saat kita berada di alam bebas, kita tidak bisa menutupi sifat kita yang sebernarnya, ke-egoisan kita, sifat emosional kita akan mudah muncul jika kita berada di alam bebas. Di saat keadaan yang tidak menguntungkan bagi diri kita masing-masing, disinilah kepedulian kita terhadap teman kita akan di uji. Siapa yang akan kita dahulukan? keselamatan diri kita sendiri atau teman kita ?.

Semua itu akan kembali kedalam diri kita masing-masing. Hal terpenting saat kita melakukan pendakian bukanlah menaklukan gunungnya, tetapi diri kita sendiri. itu yang di katakan sang pemuncak everest yang pertama. Kalimat tersebut sangatlah tepat menurut saya, karena yang terpenting adalah bagaimana kita bisa mengendalikan diri kita pada keadaan yang tidak menguntungkan kita semua. 

Kekompakkan dan kerjasama tim harus kita utamakan saat dalam pendakian. Ke-egosian harus di buang jauh-jauh, dan tanggung jawab dalam tim harus di utamakan. Kita berangkat bersama dan kitapun kan pulang bersama. Kita berpijak pada tanah yang sama, kita akan di kembalikan ke tanah yang sama. Tanah Air Indonesia.  

Belajarlah dari alam, belajarlah dari langkah kaki kita. Gunung akan mengajarkan bagaimana kita tidak boleh putus asa dalam melangkah dan menjalani hidup ini. Gunung mengajarkan bagaimana kecilnya kita dibandingkan dengan Keagungan Tuhan beserta ciptaan-Nya. Maka masih pantaskah kita menyombongkan diri dengan apa yang ada pada diri kita. 

Semoga bermanfaat untuk saya, anda dan kita semua.
Salam Lestari. 

STOP dalam keadaan Darurat

STOP dalam keadaan Darurat
Jika anda seseorang yang aktif dalam kegiatan pencinta alam mungkin anda tidak asing dengan istilah STOP, istilah ini sering digunakan sebagai patokan untuk kita penggiat kegiatan alam bebas. STOP mempunyai kepanjangan yaitu Stop - Thinking - Observe - Planning . Suatu rangkaian kata yang menunjukkan pada kita bagaimana kita harus bersikap dalam keadaan darurat.

Stop berarti berhenti. Berhenti dari segala aktifitas yang memungkinkan kita untuk lebih jauh tersesat bahkan merugikan diri kita sendiri maupun tim. Berhentilah jika kita tersesat di hutan atau di gunung. Hal ini agar kita tidak tersesat lebih jauh di hutan atau di gunung. Berhentilah, duduk, istirahat dan tenangkan diri anda dan anggota tim anda.

Thinking berarti berfikir. Dalam hal ini anda harus berfikir dengan jernih. Jauhkan diri anda dari kepanikan yang bisa mempengaruhi pola pikir anda dalam mengambil keputusan. Tetaplah support teman-teman anda dan diri anda sendiri agar tetap bisa semangat dan yakin anda beserta tim anda akan keluar dari masalah ini.

Observe berarti mengamati. Amatilah keadaan sekitar tempat anda tersesat misalnya. kemudian amatilah keadaan teman-teman anda dalam tim. Amatilah apa saja yang anda bawa yang bisa anda manfaatkan untuk mencari pertolongan dan bertahan hidup di situasi yang tidak menguntungkan anda. Amati juga tempat sekitar, mungkin ada sesuatu yang bisa anda manfaatkan untuk menghadapi situasi tersebut. misalnya sumber air maupun makanan.

Planning berarti merencanakan. Rencanakanlah langkah-langkah apa yang akan anda dan tim anda tempuh untuk keluar dari situasi ini. Rencanakan dengan baik misalnya soal pembagian tugas masing-masing anggota tim. Rencanakan juga pembagian perbekalan untuk menghadapi hal ini. 

Salam Lestari.
Salam Survive.

Menikmati Samudra Hindia dari Pegunungan

     Kali ini saya akan menceritakan pengalaman tak terlupakan yang saya alami saat mendaki sebuah pegunungan atau perbukitan di Kebumen. Pegunungan ini diberi nama Gunung Duwur ( Gunung Tinggi dalam Bahasa Indonesia ) oleh masyarakat sekitar. Terletak di desa Gubug , Kecamatan Buaya Kabupaten Kebumen, sekitar 1,5 jam dari pusat Kota Kebumen.

Di Pegunungan ini kita dapat melihat indahnya hamparan Samudra Hidia dari atas, kita dapat melihat garis pantai dengan sangat jelas. Untuk mencapai lokasi ini, jalur yang paling mudah adalah dari Jalan dari Gombong menuju Pantai Suwuk atau Karangbolong, setelah memasuki Kecamatan Buayan, carilah desa atau pasar Geblug, kemudian belok ke arah barat, ikuti terus jalan itu sampai di desa Gebug.

      Jalan yang kita lewati sangat berkelok dan naik turun, saya sarankan anda untuk berhati-hati. setelah sampai di desa Gebug, carilah jalan pendakian menuju Gunung Duwur atau Gunung Arjuna ( Gunung yang bersebelahan dengan Gunung Duwur ) . Anda dapat menitipkan kendaraan anda pada warga sekitar. Pendakian akan memakan waktu sekitar satu jam dari perkampungan sampai ke Gunung Duwur, namun jika anda mau ke Gunung Arjuna maka akan menambah sekitar 30 menit lagi karena letaknya lebih jauh, namun tidak lebih tinggi dari Gunung Duwur.

     Jalan yang kita lewati adalah Tanah berbatu, jadi berhati-hatilah saat melakukan pendakian ke sini, kemudian jangan lupa memberi tanda saat mendaki agar lebih mudah saat turun Gunung nanti, karena di Gunung ini belum ada jalur resmi untuk mencapai puncaknya, saya sering membuat jalur sendiri. Ada jalur , itupun buatan petani warga sekitar yang memanfaatkan pegunungan ini sebagai ladang bercocok tanam. Di puncak gunung duwur juga terkadang di tanami kacang tanah oleh penduduk sekitar, maka kita harus hati-hati dalam memilih jalur, jangan sampai kita memilih jalur yang salah dan merusak lahan pertanian warga.

     Perlu anda ketahui, menurut cerita yang saya dengar dari warga sekiatar bahwa Gunung ini juga sering digunakan oleh para anggota TNI untuk refreshing sekaligus menguji fisik. Jadi untuk anda para penggiat alam , maka tidak ada salahnya untuk mencoba mendaki Gunung Duwur dan Gunung Arjuna di Kabupaten Kebumen ini untuk merasakan sensasi menikmati pantai dengan cara yang berbeda.
Berikut ada beberapa gambar dari Gunung Duwur di Kebumen
Gunung ( bukit )Arjuna dari Gunung Duwur